The Hero’s Journey, The Hero with a Thousand Faces - Tak Kenal Maka Tak Sayang
Hari Jumat minggu lalu aku ikutan training yang difasilitasi oleh salah satu senior di Psikologi sekaligus mentor (kata lain dari “subyek” pada saat praktek psikometri) sejak kuliah tingkat 1, yaitu Asep Haerul Gani. Karena kebiasaan dari kuliah cuma panggil nama, mohon maaf sebelumnya kalau aku tidak memanggil dengan panggilan “kang” seperti yang lainnya (Gpp ya, Sep?). Salah satu teknik yang diajarkan adalah “metaphor” yaitu bercerita. Di dalam teknik penceritaan itu menggunakan teknik cerita dalam cerita, contohnya. Cerita 1001 Malam. Supaya lebih mantap, aku coba mempraktekkannya…
Ide munculnya tulisan ini adalah dari salah satu contoh kasus yang diceritakan oleh Asep mengenai salah seorang karyawan (anggaplah Toni) yang datang berkonsultasi ke Asep karena merasa karirnya “mandeg” bila dibandingkan teman-temannya seangkatan di perusahaan yang sama. Setelah dikorek (kok seperti bahasa Polisi, ya?) lebih lanjut, ternyata teman-temannya itu sering datang ke para Atasan (langsung maupun tidak langsung) untuk bercerita. Toni menganggap hal tersebut sebagai usaha “menjilat” Atasan (sebagai orang Jawa, aku juga suka dinasehati untuk selalu ”merendah”, tidak perlu mengunjukkan diri karena orang lain akan tahu dengan sendirinya). Nah, dari sini dapat ditangkap bahwa “sistem nilai” yang dianut oleh Tonilah yang menghalanginya untuk berbuat yang sama dengan teman-temannya itu. Kalau sudah berbicara mengenai sistem nilai adalah sesuatu yang sangat mendasar dan merupakan hasil kristalisasi dari pola asuh sejak kecil (dari sisi Pengembangan Diri termasuk kategori “sulit” dan relatif lebih lama untuk mengubahnya).
Kemudian Asep bertanya mengenai hobinya, dan hobinya adalah memancing ikan. Asep kemudian memilih sebuah cerita yang berhubungan dengan hobinya tersebut, yaitu tentang sebuah kolam ikan. Setiap kali si Pemilik Kolam menyebarkan makanan, hanya ikan-ikan tertentu saja yang muncul ke permukaan dan melahap makanan itu. Tapi suatu kali ketika kolam itu secara rutin dikuras, ternyata di kolam tersebut ada ikan yang sangat besar, melebihi rata-rata ikan lainnya, yang selama ini tidak pernah terlihat. Asep kemudian menggiring orang Toni untuk berpikir dengan melontarkan beberapa pertanyaan, sampai suatu titik orang tersebut tercenung selama beberapa jam (dalam teori Psikologi diistilahkan dengan “indirective technique” untuk mendapatkan “insight / AHA experience”). Akhirnya dia memang dapat mengambil “insight” untuk dirinya-sendiri, bahwa tidak selamanya menunjukkan diri itu adalah “menjilat”, tapi lebih memperkenalkan diri atas kemampuan-kemampuan yang dimilikinya (yang mungkin “lebih besar” dibandingkan yang lain).
Kalau dikaitkan dengan cerita di dalam cerita, aku bercerita tentang seseorang yang berkonsultasi ke Asep (cerita 1), kemudian Asep bercerita lagi mengenai ikan (cerita 2). CMIIW ya, Sep…
Cerita tersebut sebenarnya sangat pas dengan keadaan diriku beberapa tahun yang lalu (atau jangan-jangan Asep memahami sindroma yang aku alami ini sehingga dia memilih cerita tersebut atau bahkan pengalaman pribadinya sendiri… hehehe). Pada masa itu, aku merasa kesal sekali dengan rekan kerja yang mendapatkan promosi padahal yang menyelesaikan sebagian besar tanggung-jawabnya adalah aku (bukannya ingin menyombongkan diri lho, tapi terbukti ketika dia cuti aku bisa menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung-jawabnya tanpa banyak bertanya tapi sebaliknya ketika aku yang cuti, tiap hari ditelpon… atau di sisi lain justru dapat dipandang bahwa dia dapat mendelegasikan tugas dengan baik ya?… hehehe). Tapi setelah aku introspeksi diri, apa yang membuatnya lebih “dikenal” kemudian mendapatkan kepercayaan lebih sehingga mendapatkan promosi, ternyata karena kemampuan dia bercerita (atau bahasa kerennya “komunikasi verbal”). Dia dapat memaparkan suatu permasalahan dengan sistimatis, panjang kali lebar (kadang bahkan sebagai pendengar, aku merasa “bodoh” karena hal-hal yang gak perlu dijelaskan ternyata dijelaskan juga) tanpa kehilangan pokok permasalahan, kemudian menjelaskan hal-hal yang telah dilakukannya atau melontarkan rekomendasi solusi.
Dari sini aku melihat bahwa memang seharusnya begitulah kalau ingin “dikenal”. Perasaan “bodoh” itu belum tentu dialami oleh orang lain yang memang memerlukan keterangan rinci atau supaya menangkap dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Ini terbukti dengan “global conference call” yang baru saja aku ikuti sebelum memulai tulisan ini. Kali ini formatnya agak berbeda karena dari 1 jam, 45 menit diantaranya adalah paparan dari Regional Greater Asia (saja) mengenai kondisi makro ekonomi, pengaruhnya ke Perusahaan, sampai tantangan-tantangan yang dihadapi, dan bagaimana usaha yang dilakukan untuk menghadapinya. Paparan itu tidak hanya diberikan oleh Pimpinan Tertingginya saja, tapi juga menampilkan penanggung-jawab langsung untuk menjelaskan. Dari sini dapat dilihat bahwa bagaimana orang lain di belahan dunia lain akan memahami kondisi kita kalau kitanya tidak memaparkan kepada mereka secara rinci apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Selain itu, bisa dijadikan momen untuk Atasan memperkenalkan bawahannya ke orang lain dengan membiarkan mereka berbicara.
Sebetulnya di perusahaan sebelumnyapun aku mengalami hambatan dalam komunikasi (yang baru disadari kemudian, kalau sudah sadar dari dulu mungkin sudah dipromosi dari dulu juga… hehehe), karena justru di perusahaan sebelumnya ini “emosi” masih meledak-ledak (kalau ingin berkilah karena faktor “usia”) sehingga dalam bercerita menjadi sangat emosional dan kadang-kadang malah “ngambek” (Bagaimana Atasan akan percaya ke kita kalau kelakuan kita seperti anak kecil, kan?). Hasil introspeksi diri ini akhirnya aku praktekkan untuk mengubah diri.
Dulu aku dikenal sebagai seorang yang “pemalu” (terbukti dari komentar-komentar yang terlontar secara gamblang dari teman-teman semasa SMP dan SMA yang baru ketemu lagi setelah sekian lama, mis. “Aku dulu gak pernah kenal kamu lho, Ris.” atau “Iris itu yang mana ya?” atau lebih parah lagi “Dulu setiap kali aku ngajak kamu ngobrol, kamu selalu nunduk.”) dan memiliki sistem nilai seperti kasus “Toni”. Berdasarkan hasil introspeksi diri tersebut, “pemalu”-nya aku itu ternyata justru merugikan diri-sendiri. Jadi kenapa bukan kita yang mulai untuk mengubah diri kita sendiri, karena kita tidak bisa berharap orang lain yang mengubah diri untuk kita, kan? Karena sudah menyangkut sistem nilai (introspeksi diri vs. analisis dari sisi Psikologi yaitu aku sendiri tanpa berkonsultasi ke Asep… hehehe), tentunya perubahannya tidak serta-merta selayaknya membalikkan telapak tangan (seperti Toni).
Alhamdulillah… situasi dan kondisinya mendukung untuk “memaksaku” berubah. Sebagai “public speaker” aku dituntut untuk lebih banyak bicara di depan orang banyak dari berbagai kalangan dan tingkatan (walaupun masih di lingkup lokal), kemudian dituntut untuk mengutarakan pendapat di lingkup Lokal, Regional, maupun Global dengan menggunakan bahasa orang lain (sungguh luar biasa bagi orang kampung yang hanya mengenyam pendidikan sekolah negeri dari SD sampai sekarang, bahkan sewaktu pertemuan Global pendapatku dianggap bagus dan mendapatkan hadiah $1, yang sekarang aku kasih pigura di meja kerjaku… hehehe). Oh iya, selama menjalani perkuliahan di MM UI, salah satu metode pengajaran yang diterapkan adalah “memaksa” mahasiswa berbicara dan itu menurutku betul sekali karena sistem pendidikan kita jaman dulu hanya satu arah dari guru ke murid.
Kemudian… aku belajar untuk mulai “menulis” (walaupun masih dalam bahasa lokal, mudah-mudahan suatu saat bisa menggunakan bahasa orang lain), dengan menggunakan media “blog” ini dari 3 tahun yang lalu. Mungkin bagi orang lain mengungkapkan diri adalah sesuatu yang “memalukan”, tapi buat aku (sekarang) sebagai upaya untuk menerima diriku apa adanya. Selain itu, dengan mengungkapkan diri diharapkan akan mendapatkan umpan balik dari orang-orang di sekitarku (atau yang membaca tulisan ini), yang akhirnya dapat lebih mempercepat pengembangan diriku selanjutnya. Bagi orang lain (harapanku), akan mendapat “insight” juga dari ceritaku ini.
Beberapa hal yang (mungkin) dapat diambil:
- Benar seperti Asep bilang bahwa menggunakan suatu “metaphor” dapat membantu orang lain untuk mendapatkan “insight” tanpa merasa “digurui”.
-
Introspeksi merupakan “kesediaan” seseorang untuk melihat diri-sendiri apa adanya.
-
Introspeksi tanpa diikuti “keikhlasan” untuk mengubah diri juga akan percuma. Walaupun pada kasusku awalnya mungkin terpaksa, tapi ikhlas menurutku penting karena akan mempengaruhi “kualitas” hasil yang akan didapatkan kemudian.
-
Dalam mengubah diri, tentunya ada proses dan proses tersebut perlu dimonitor serta kalau perlu dihadiahi sesuatu (tidak perlu dari orang lain, cukup dari kita sendiri).
-
Kemampuan mengemukakan pendapat ternyata tidak hanya bermanfaat untuk diri-sendiri (agar orang lain lebih memahami diri kita) tapi juga (mungkin) dapat mempengaruhi orang lain untuk mendapatkan “insight”.
-
Kemampuan bercerita dipengaruhi oleh banyak hal. Mengacu pada pengalamanku selama ini (tanpa menggunakan teori siapapun) adalah pemilihan cerita sesuai dengan orang yang kita hadapi dan tema permasalahannya, kepercayaan diri, sistimatika berpikir, pemilihan kata-kata disesuaikan dengan pendengar, pemaparan dari sudut pandang mana (untuk memberikan kesan pada orang lain yang berbeda), serta gaya bahasa yang digunakan dalam situasi yang berbeda (Masak lagi sedih mengeluarkan lelucon?).
-
Terkadang kita membutuhkan orang lain atau kondisi tertentu untuk membantu (bahkan memaksa) dalam proses mendapatkan “insight” dan mempercepat proses “AHA”. Jadi carilah teman atau situasi/kondisi tersebut.
-
Paparan dalam bentuk tulisan dapat membantu mensistimatisasikan ide-ide yang muncul (yang terkadang berhamburan seperti gerakan netron), memilih dan memilah kata-kata yang pas, dan lebih abadi karena dibaca oleh orang lain di berbagai kesempatan.
The Hero’s Journey in Film
Ciaran | MySpace Video
















