The Hero’s Journey, The Hero with a Thousand Faces - Tak Kenal Maka Tak Sayang

Hari Jumat minggu lalu aku ikutan training yang difasilitasi oleh salah satu senior di Psikologi sekaligus mentor (kata lain dari “subyek” pada saat praktek psikometri) sejak kuliah tingkat 1, yaitu Asep Haerul Gani. Karena kebiasaan dari kuliah cuma panggil nama, mohon maaf sebelumnya kalau aku tidak memanggil dengan panggilan “kang” seperti yang lainnya (Gpp ya, Sep?). Salah satu teknik yang diajarkan adalah “metaphor” yaitu bercerita. Di dalam teknik penceritaan itu menggunakan teknik cerita dalam cerita, contohnya. Cerita 1001 Malam. Supaya lebih mantap, aku coba mempraktekkannya…

Ide munculnya tulisan ini adalah dari salah satu contoh kasus yang diceritakan oleh Asep mengenai salah seorang karyawan (anggaplah Toni) yang datang berkonsultasi ke Asep karena merasa karirnya “mandeg” bila dibandingkan teman-temannya seangkatan di perusahaan yang sama. Setelah dikorek (kok seperti bahasa Polisi, ya?) lebih lanjut, ternyata teman-temannya itu sering datang ke para Atasan (langsung maupun tidak langsung) untuk bercerita. Toni menganggap hal tersebut sebagai usaha “menjilat” Atasan (sebagai orang Jawa, aku juga suka dinasehati untuk selalu ”merendah”, tidak perlu mengunjukkan diri karena orang lain akan tahu dengan sendirinya). Nah, dari sini dapat ditangkap bahwa “sistem nilai” yang dianut oleh Tonilah yang menghalanginya untuk berbuat yang sama dengan teman-temannya itu. Kalau sudah berbicara mengenai sistem nilai adalah sesuatu yang sangat mendasar dan merupakan hasil kristalisasi dari pola asuh sejak kecil (dari sisi Pengembangan Diri termasuk kategori “sulit” dan relatif lebih lama untuk mengubahnya).

Kemudian Asep bertanya mengenai hobinya, dan hobinya adalah memancing ikan. Asep kemudian memilih sebuah cerita yang berhubungan dengan hobinya tersebut, yaitu tentang sebuah kolam ikan. Setiap kali si Pemilik Kolam menyebarkan makanan, hanya ikan-ikan tertentu saja yang muncul ke permukaan dan melahap makanan itu. Tapi suatu kali ketika kolam itu secara rutin dikuras, ternyata di kolam tersebut ada ikan yang sangat besar, melebihi rata-rata ikan lainnya, yang selama ini tidak pernah terlihat. Asep kemudian menggiring orang Toni untuk berpikir dengan melontarkan beberapa pertanyaan, sampai suatu titik orang tersebut tercenung selama beberapa jam (dalam teori Psikologi diistilahkan dengan “indirective technique” untuk mendapatkan “insight / AHA experience”). Akhirnya dia memang dapat mengambil “insight” untuk dirinya-sendiri, bahwa tidak selamanya menunjukkan diri itu adalah “menjilat”, tapi lebih memperkenalkan diri atas kemampuan-kemampuan yang dimilikinya (yang mungkin “lebih besar” dibandingkan yang lain).

Kalau dikaitkan dengan cerita di dalam cerita, aku bercerita tentang seseorang yang berkonsultasi ke Asep (cerita 1), kemudian Asep bercerita lagi mengenai ikan (cerita 2). CMIIW ya, Sep… :)

Cerita tersebut sebenarnya sangat pas dengan keadaan diriku beberapa tahun yang lalu (atau jangan-jangan Asep memahami sindroma yang aku alami ini sehingga dia memilih cerita tersebut atau bahkan pengalaman pribadinya sendiri… hehehe). Pada masa itu, aku merasa kesal sekali dengan rekan kerja yang mendapatkan promosi padahal yang menyelesaikan sebagian besar tanggung-jawabnya adalah aku (bukannya ingin menyombongkan diri lho, tapi terbukti ketika dia cuti aku bisa menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung-jawabnya tanpa banyak bertanya tapi sebaliknya ketika aku yang cuti, tiap hari ditelpon… atau di sisi lain justru dapat dipandang bahwa dia dapat mendelegasikan tugas dengan baik ya?… hehehe). Tapi setelah aku introspeksi diri, apa yang membuatnya lebih “dikenal” kemudian mendapatkan kepercayaan lebih sehingga mendapatkan promosi, ternyata karena kemampuan dia bercerita (atau bahasa kerennya “komunikasi verbal”). Dia dapat memaparkan suatu permasalahan dengan sistimatis, panjang kali lebar (kadang bahkan sebagai pendengar, aku merasa “bodoh” karena hal-hal yang gak perlu dijelaskan ternyata dijelaskan juga) tanpa kehilangan pokok permasalahan, kemudian menjelaskan hal-hal yang telah dilakukannya atau melontarkan rekomendasi solusi.

Dari sini aku melihat bahwa memang seharusnya begitulah kalau ingin “dikenal”. Perasaan “bodoh” itu belum tentu dialami oleh orang lain yang memang memerlukan keterangan rinci atau supaya menangkap dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Ini terbukti dengan “global conference call” yang baru saja aku ikuti sebelum memulai tulisan ini. Kali ini formatnya agak berbeda karena dari 1 jam, 45 menit diantaranya adalah paparan dari Regional Greater Asia (saja) mengenai kondisi makro ekonomi, pengaruhnya ke Perusahaan, sampai tantangan-tantangan yang dihadapi, dan bagaimana usaha yang dilakukan untuk menghadapinya. Paparan itu tidak hanya diberikan oleh Pimpinan Tertingginya saja, tapi juga menampilkan penanggung-jawab langsung untuk menjelaskan. Dari sini dapat dilihat bahwa bagaimana orang lain di belahan dunia lain akan memahami kondisi kita kalau kitanya tidak memaparkan kepada mereka secara rinci apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Selain itu, bisa dijadikan momen untuk Atasan memperkenalkan bawahannya ke orang lain dengan membiarkan mereka berbicara.

Sebetulnya di perusahaan sebelumnyapun aku mengalami hambatan dalam komunikasi (yang baru disadari kemudian, kalau sudah sadar dari dulu mungkin sudah dipromosi dari dulu juga… hehehe), karena justru di perusahaan sebelumnya ini “emosi” masih meledak-ledak (kalau ingin berkilah karena faktor “usia”) sehingga dalam bercerita menjadi sangat emosional dan kadang-kadang malah “ngambek” (Bagaimana Atasan akan percaya ke kita kalau kelakuan kita seperti anak kecil, kan?). Hasil introspeksi diri ini akhirnya aku praktekkan untuk mengubah diri.

Dulu aku dikenal sebagai seorang yang “pemalu” (terbukti dari komentar-komentar yang terlontar secara gamblang dari teman-teman semasa SMP dan SMA yang baru ketemu lagi setelah sekian lama, mis. “Aku dulu gak pernah kenal kamu lho, Ris.” atau “Iris itu yang mana ya?” atau lebih parah lagi “Dulu setiap kali aku ngajak kamu ngobrol, kamu selalu nunduk.”) dan memiliki sistem nilai seperti kasus “Toni”. Berdasarkan hasil introspeksi diri tersebut, “pemalu”-nya aku itu ternyata justru merugikan diri-sendiri. Jadi kenapa bukan kita yang mulai untuk mengubah diri kita sendiri, karena kita tidak bisa berharap orang lain yang mengubah diri untuk kita, kan? Karena sudah menyangkut sistem nilai (introspeksi diri vs. analisis dari sisi Psikologi yaitu aku sendiri tanpa berkonsultasi ke Asep… hehehe), tentunya perubahannya tidak serta-merta selayaknya membalikkan telapak tangan (seperti Toni).

Alhamdulillah… situasi dan kondisinya mendukung untuk “memaksaku” berubah. Sebagai “public speaker” aku dituntut untuk lebih banyak bicara di depan orang banyak dari berbagai kalangan dan tingkatan (walaupun masih di lingkup lokal), kemudian dituntut untuk mengutarakan pendapat di lingkup Lokal, Regional, maupun Global dengan menggunakan bahasa orang lain (sungguh luar biasa bagi orang kampung yang hanya mengenyam pendidikan sekolah negeri dari SD sampai sekarang, bahkan sewaktu pertemuan Global pendapatku dianggap bagus dan mendapatkan hadiah $1, yang sekarang aku kasih pigura di meja kerjaku… hehehe). Oh iya, selama menjalani perkuliahan di MM UI, salah satu metode pengajaran yang diterapkan adalah “memaksa” mahasiswa berbicara dan itu menurutku betul sekali karena sistem pendidikan kita jaman dulu hanya satu arah dari guru ke murid.

Kemudian… aku belajar untuk mulai “menulis” (walaupun masih dalam bahasa lokal, mudah-mudahan suatu saat bisa menggunakan bahasa orang lain), dengan menggunakan media “blog” ini dari 3 tahun yang lalu. Mungkin bagi orang lain mengungkapkan diri adalah sesuatu yang “memalukan”, tapi buat aku (sekarang) sebagai upaya untuk menerima diriku apa adanya. Selain itu, dengan mengungkapkan diri diharapkan akan mendapatkan umpan balik dari orang-orang di sekitarku (atau yang membaca tulisan ini), yang akhirnya dapat lebih mempercepat pengembangan diriku selanjutnya. Bagi orang lain (harapanku), akan mendapat “insight” juga dari ceritaku ini.

Beberapa hal yang (mungkin) dapat diambil:

  • Benar seperti Asep bilang bahwa menggunakan suatu “metaphor” dapat membantu orang lain untuk mendapatkan “insight” tanpa merasa “digurui”.
  • Introspeksi merupakan “kesediaan” seseorang untuk melihat diri-sendiri apa adanya.
  • Introspeksi tanpa diikuti “keikhlasan” untuk mengubah diri juga akan percuma. Walaupun pada kasusku awalnya mungkin terpaksa, tapi ikhlas menurutku penting karena akan mempengaruhi “kualitas” hasil yang akan didapatkan kemudian.
  • Dalam mengubah diri, tentunya ada proses dan proses tersebut perlu dimonitor serta kalau perlu dihadiahi sesuatu (tidak perlu dari orang lain, cukup dari kita sendiri).
  • Kemampuan mengemukakan pendapat ternyata tidak hanya bermanfaat untuk diri-sendiri (agar orang lain lebih memahami diri kita) tapi juga (mungkin) dapat mempengaruhi orang lain untuk mendapatkan “insight”.
  • Kemampuan bercerita dipengaruhi oleh banyak hal. Mengacu pada pengalamanku selama ini (tanpa menggunakan teori siapapun) adalah pemilihan cerita sesuai dengan orang yang kita hadapi dan tema permasalahannya, kepercayaan diri, sistimatika berpikir, pemilihan kata-kata disesuaikan dengan pendengar, pemaparan dari sudut pandang mana (untuk memberikan kesan pada orang lain yang berbeda), serta gaya bahasa yang digunakan dalam situasi yang berbeda (Masak lagi sedih mengeluarkan lelucon?).
  • Terkadang kita membutuhkan orang lain atau kondisi tertentu untuk membantu (bahkan memaksa) dalam proses mendapatkan “insight” dan mempercepat proses “AHA”. Jadi carilah teman atau situasi/kondisi tersebut.
  • Paparan dalam bentuk tulisan dapat membantu mensistimatisasikan ide-ide yang muncul (yang terkadang berhamburan seperti gerakan netron), memilih dan memilah kata-kata yang pas, dan lebih abadi karena dibaca oleh orang lain di berbagai kesempatan.
Watched:
 

Tukang Molor ™

Kalau ngliat judulnya… mestinya  artinya adalah “Trade Mark” tapi kalau buat aku “Trade Mark”-ku adalah ”Tukang Molor”. Sama-sama TM kan? hehehe. Dari sejak kuliah dulu, temen-temenku heran dengan kebiasaanku yang satu ini. Bayangkan aja… pegang pulpen, maksudnya sih nyatet kuliah dari dosen, tapi mata merem karena ketiduran tapi… pulpennya masih tegak berdiri. Atau naik Metromini berdiri di deket pintu, pegangan tiang yang di deket pintu itu, tapi bisa sambil tidur dan aneh bin ajaib… buku2 kuliah yang kupegang, gak jatuh (kebayang gak posisinya?). O iya… ada 1 foto yang meninggalkan kesan mendalam bagi temen-temen kuliahku dulu yaitu pas acara kumpul-kumpul di salah satu vila temen sekelas di puncak. Aku tidur di lantai dengan posisi seperti “sleeping beauty”, tidur miring dengan tangan kanan menyangga kepala, tapi terlelap… Pas kebangun temen-temen yang tadinya ngobrol “ngariung” di sekitarku udah pada masuk kamar. Hihihihi… Kemana ya itu foto…??? Kalau ada kan bisa aku masukkan ke sini. Tapi sementara pake foto ini dulu deh…

Ya itulah aku… Kenapa kemudian tergelitik untuk nulis karena pas acara reunian hari Jumat kemarin, temen-temenku bercerita tentang kebiasaanku itu di depan anaknya temenku yang kebetulan ikutan. Dia gak percaya… Aku gak heran, karena memang kebiasaanku ini “nyleneh”, dan… cerita tentang diriku ini pasti akan muncul di acara reuni, with or without my presence, alias “dirasani”. Gak usah gitu deh… di keluargakupun kebiasaan ini suka jadi bahan olok-olok… hihihi.

Dulu-dulu sih, aku merasa tersinggung dan sebel karena jadi bahan olok-olok… tapi dengan berjalannya waktu, karena kebiasaan yang sudah mendarah-daging itu tidak bisa kuubah, akhirnya aku mengambil sisi positifnya aja. Alm. Bapakku yang memiliki kebiasaan yang sama (like father like daughter), selalu bilang untuk melihat positifnya dan anggaplah sebagai karunia dari Allah. Model konkritnya adalah Gus Dur (mohon maaf kalau ada yang tersinggung). Walaupun di rapat kabinet (keliatannya) terlelap, tapi masih bisa menjawab pertanyaan dan merespons dengan tepat. Hihihi… cari pembenaran…

Tapi bener lho… Aku sendiri justru merasa beruntung dikaruniai kemudahan untuk bisa tidur dimanapun, kapanpun, dan dalam waktu yang singkatpun. Artinya… ketika kegiatanku banyak (waktu kuliah kegiatanku banyak banget) dan harus menclok sana menclok sini sehingga gak ada waktu untuk istirahat, sepanjang perjalanan naik kendaraan umum aku bisa manfaatkan untuk tidur, sehingga sampai di tempat kegiatan sudah seger lagi dan siap beraktifitas penuh. Makin ke sini, aku makin merasakan hikmahnya. Ketika harus menjalani peran ganda sebagai pekerja, ibu rumah tangga, sekaligus mahasiswi (lagi), aku bisa nyuri waktu barang 5 menit untuk melelapkan diri (sssssst… buka rahasia dikit… biasanya di toilet atau di mobil). Setelah itu… seger deh mengikuti perkuliahan. Atau ketika harus menjalani penerbangan panjang yang biasanya menyebabkan orang lain “jet lag”, aku biasa aja tuh… karena sudah cukup istirahat… alias sepanjang penerbangan moloooooor…. hehehe.

Aku jadi inget salah satu status di fb temenku… Intinya menyatakan bahwa setelah temennya curhat ke dia, apa yang terjadi dengan temannya selama ini disangkanya adalah sesuatu yang buruk. Padahal setelah temennya itu cerita semua yang melatar-belakanginya, akhirnya dia memahami dan mengerti bahwa tidak selamanya hal itu buruk. Jadi intinya… tinggal kita memilih dari sudut mana kita menyikapi dan bagaimana memanfaatkan “kelemahan” kita menjadi suatu “kekuatan” yang memberikan “added value” karena keunikannya… alias sukar ditiru orang lain…

Yes Man - Jim Carey and Yoyo Competition - Farras

Sambil nunggu pengumuman Farras tanding Yoyo tingkat Nasional yang pertama, aku nulis blog ini karena kayaknya ada hubungannya deh… Kenapa begitu? Mungkin lebih baik tahu dulu gimana ceritanya:

Life of Carl Allen ( Jim Carrey) uncertain – fulfilled by word “ not – till he follow program by acceding to always say “ YES – tell YES for the everything…The power of word YES change life of Carl drastically by unforeseen and remarkable, getting promotion in office and opening of returning life of hislove. But all its desire form too easy..

Ke-Yes-annya itu tercermin dari keikutsertaannya dia dalam berbagai kegiatan, sampai yang paling tidak berkaitan dengan pekerjaannya sama sekali, seperti kursus bahasa Korea dan gitar (satunya lagi lupa). Tapi akhirnya semuanya itu terbayar di kemudian hari, seperti bahasa Koreanya dipakai ketika membantu temannya yang mau menikan supaya mendapatkan layanan yang baik dari Wedding Service yang kebetulan orang Korea, Kemudian kebisaannya main gitar mencegah orang bunuh diri.

Apa hubungannya dengan Farras? Kalau dipikir-pikir apa sih pertandingan Yoyo itu? Tapi yang aku ambil adalah bagaimana ia berlatih dan mempersiapkan diri dengan belajar trik-trik dari para yoyoers lain yang lebih ahli, bagaimana tampil dengan tenang dan percaya diri, dan bagaimana berkompetisi dengan fair. Alhamdulillah cukup memuaskan hasilnya… Lolos audisi, lolos semi-final ranking 3 dari 15, dan lolos sampai final… mudah-mudahan hasilnya paling tidak juara 2 atau 3. Amiin.

Update!! Farras juara II Nasional kategori Beginner Divisi 1A. Liat penampilan live-nya deh…

Meet The Robinsons - Keep Moving Forward!

Dah lama juga ya, gak update blog… Coba deh aku isi, lagi-lagi ini lesson learned dari film yang ditonton oleh anakku…

Film ini menceritakan seorang anak yang dituntut untuk terus mencoba, walaupun mengalami kegagalan di dalam percobaan/risetnya. Yang jelas, anakku bener-bener terkesan dengan kata-kata “Keep Moving Forward!” dan sampai sekarang menjadi bahasa penyemangat di keluarga kami, terutama bila ada yang mengalami kegagalan. Kata lainnya yang sering dipakai adalah “There is a way if there is a will.”

Silahkan langsung nonton klipnya deh… http://www.youtube.com/watch?v=hm5AEG47Vi4

Kung Fu Panda (Lesson Learned)

In an animated ancient China populated by talking animals, the world’s most malevolent warrior is the snow leopard Tai Lung. When Tai Lung escapes from prison, all seems lost until a prophecy points to a heroic Dragon Warrior destined to save the day! Problem is, the chosen one happens to be Po, a lazy, clumsy dumpling addict whose girth puts the “giant” back in “giant panda.” Despite Po’s apparent lack of potential, the legendary kung fu master Shifu tries to whip him into shape with the help of his five prize students: Tigress, Monkey, Snake, Crane, and Mantis (sound familiar to any kung fu students out there?).

Memindahkan dari email kiriman teman saya, beberapa hal yang aku setuju bisa diambil sebagai bahan pelajaran:

1. *The secret to be special is you have to believe you’re special.*

Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri. Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial. Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa.

Seperti kata Master Oogway, *You just need to believe*

2. *Dont give up on your dreams*.

Po , panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri?

Seperti kata Master Oogway, *Yesterday is history, tomorrow is a mistery, today is a gift, that’s why we call it “PRESENT” –> *kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut Present (hadiah).

Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.

3. *Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.*

Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po . Ia memandang Po tidak berbakat. Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu adalah satu-satunya orang yang mampu melatihnya.

Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah. Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.

4. *Every individual have their own way to learn and their own motivation*

Shi Fu akhirnya menemukan cara bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain.

Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan.

5. *Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang salah*.Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.

Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/ murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu.

Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan.

Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru.

6. *Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu.*Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya. Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.

7. *Family is the most important thing in this world*.

Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu.

Keluarga ada elemen terpenting yang ada di dunia ini. Mereka adalah orang pertama yang akan merasakan kesusahan kita, orang pertama yang memberikan dukungan terbesar pada saat kita membutuhkannya, dan orang pertama yang akan melindungi dan mau berkorban untuk kita.

Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita?

 

8, My Lucky Number

8

Tanggal 8 bulan 8 tahun 2008, 38 tahun yang lalu, lahirlah seorang anak yang kemudian diberi nama Iris.

Bulan 8 tahun 1988, 18 tahun kemudian, anak itu diterima kuliah di Fakultas ke-8 di Universitas Indonesia, salah satu fakultas pilihan pada saat itu.

Bulan 8 tahun 2008, saat ini, aku lulus dari Magister Manajemen Universitas Indonesia, (lagi-lagi) salah satu pilihan para lulusan sarjana di negara ini.

Sebenernya aku bukan orang yang percaya pada angka, tapi ternyata Allah memberikan berkahnya pas pada tanggal tersebut (hanya kebetulan barangkali yaaaa…). Yang bisa aku lakukan hanyalah mengucapkan sujud syukur atas semua berkah dan karunia yang dilimpahkan oleh-Nya. Mudah-mudahan Beliau selalu memberikan kelapangan dan kemudahan serta karunia-Nya… selamanya… Amiin.

Farras and My Graduation

“Sujud syukur penulis haturkan ke hadirat Allah SWT, Yang Maha Berkehendak lagi Maha Penyayang. Bila dirunut ke belakang, tak akan mungkin bila tanpa ijin-Nya, penulis dapat  mencecap curahan ilmu, yang kemudian diramu dengan ilmu lainnya, sehingga tercipta rasa baru sebagaimana karya akhir ini. Sepanjang perjalanan dua tahun perkuliahan di kampus tercinta MMUI, ada tiga kejadian khusus yang ditunjukkan oleh-Nya sebagai jalan keberkahan, blessing in disguise. Satu di antaranya adalah pindah perusahaan bukan atas kehendak pribadi, namun justru mendapatkan perusahaan yang lebih cocok sebagai tinjauan kasus karya akhir. Perjalanan hidup memang sudah selayaknya selalu disyukuri dan dicari hikmahnya, serta tak lupa disertai panjatan doa dan ikhtiar yang tak lekang oleh masa.

Penulisan karya akhir ini boleh dikatakan berawal dari obsesi penulis seselesainya pendidikan di Psikologi lebih dari sedasawarsa yang lalu, yaitu keinginan untuk menjembatani antara bidang keahlian penulis yang berhubungan dengan sumber daya manusia dan keuangan. Berawal dari keinginan tersebut, penulis sedikit nekad memilih Manajemen Keuangan yang njlimet, terutama bagi ukuran penulis, agar mendapatkan wawasan – dari sisi yang sedikit ekstrim dari Psikologi – yaitu hitung-menghitung keuangan perusahaan.”

Graduation_2

Itu adalah 2 penggal paragraf dari kata pengantar untuk tesisku dan alhamdulillah hari Rabu kemarin presentasinya dianggap sukses, sehingga aku berhak ikut wisuda bulan Agustus seperti yang aku inginkan sebagai hadiah ulang tahun [Sian amat ya... menghadiahi diri-sendiri... ;-)].

Tapi… menyadur salah satu quote yang bisa mewakili perasaanku saat ini adalah… “Graduation is only a concept. In real life every day you graduate. Graduation is a process that goes on until the last day of your life. If you can grasp that, you’ll make a difference.” ~Arie Pencovici~

In real life every day you graduate. Ini terjadi sama anakku… Sudah 4 hari ini dia sukses pulang-pergi ke sekolah pake sepeda barunya. Walaupun sempet sih, ngerayu-ngerayu supaya gak usah naek sepeda, dengan alasan capeklah, kurang tidurlah, dsb…

Selang beberapa hari setelah itu, ternyata sepedanya dirusak dan tidak ada satupun yang tahu siapa pelakunya. Walaupun sempat kecewa berat, dia tetap mau berangkat menggunakan sepedanya itu. Waktu temenku nanya ke dia, “Apa gak malu sebagai satu-satunya yang naik sepeda ke sekolah (yang dibilang sebagai sekolahnya anak-anak borju)?”, dia bilang “Cuek aja…! Farras gak ngapa-ngapain mereka…”   

Congratulation kiddo!!! Keep moving forward!!! Mom’s so proud of you…

Adelin Lis vs Darmawi Bulkis

Hmmm… susahnya… mempertahankan sebuah kebenaran di Indonesia tercinta ini. Suatu fakta yang jelaspun dapat diputar-balikkan semudah membalikkan telapak tangan… Kenapa aku bilang begitu? Terbukti dengan judul post ini (refer ke Tempo, 9 Desember 2007, hal. 42-43).

Pada hari itu, malam-malam sekitar jam 8 ketika sedang asik becanda dengan 2 buah hati tercinta, ketukan dan ucapan salam membuat hati kami berdua cemas selama berhari-hari. Bagaimana tidak…, yang mengetuk pintu adalah polisi preman (kucel dan lusuh, kayak gak mandi beberapa hari) yang datang membawa surat perintah panggilan suamiku sebagai “saksi ahli” kasus Adelin Lis ke Medan untuk berangkat keesokan paginya, trus pake salah ketik pulak… bahwa status pemanggilan suamiku adalah sebagai “terdakwa”… Tapi untung juga, dengan alasan surat yang salah, kami bisa menundanya sampai minggu depan sehingga bisa lebih siap, lahir dan batin. Bisa dibayangkan, menjadi saksi ahli kasus ilegal logging dan untuk pertama di Indonesia yang bisa sampai masuk pengadilan… Konsekuensinya tidak hanya kepada dia sebagai kepala keluarga, tapi juga kami, sebagai anggota keluarga. Ketakutan akan kejadian Munir (atau Sardjito yang jadi saksi ahli kasus pencurian arca di Museum Radya Pustaka Solo) sudah terbayang di depan mata.

Tapi… setelah tahu bahwa dari beberapa saksi yang telah di BAP ternyata mundur ketika dipanggil untuk jadi saksi di pengadilan, suamiku dengan nekadnya tetap berangkat (didampingi oleh salah satu bos di Lembaga Auditor dimana dia bernaung). Walhasil… ternyata kecemasan dan pertentangan batin maupun antara kita berdua, tidak sepadan dengan hasil dari proses peradilan itu sendiri. Pengadilan akhirnya tidak hanya mengacuhkan bukti-bukti langsung di lapangan berdasarkan laporan Team Auditor yang ditugaskan langsung oleh Dephut, malahan mengambil kesaksian dari IPB yang gak pernah terjun ke lapangan sama sekali.

Yaaah… tapi paling enggak suamiku sudah membuktikan bahwa idealismenya untuk mempertahankan hutan Indonesia ketika dia memilih jurusan Manajemen Kehutanan dulu, tidaklah pupus… Bahkan diapun tidak silau dengan “tawaran uang” dari kelompok mereka ketika sedang melaksanakan proses audit… Mudah-mudahan kasus-kasus seperti Munir, Sardjito, dan… suamiku, tidak mematahkan semangat orang-orang beridealisme tinggi untuk “stand bravely for the truth”Sebagai istri, aku hanya bisa mendukung dan melakukan langkah-langkah preventif untuk mempertahankan diri…

Cobaan Sebuah Cangkir (Farras Bike to School)

Kisah ini udah lama aku terima dari email temenku, mungkin sekitar tahun 2000an, tapi kemudian gak tahu nyimpennya dimana… Alhamdulillah ketemu…

Kenapa aku terkesan banget dengan kisah ini karena tugas terberat orang tua adalah membentuk anak-anaknya agar bisa survive (at least) di tengah masyarakat.

Radfahren 

Baru-baru ini aku beliin sepeda anakku. Memang sudah jadi rencanaku dan sudah disepakati sama anakku bahwa naik kelas 5 akan dibeliin sepeda untuk dia berangkat dan pulang sekolah. Tapi aku masih ragu, apa tega ya nglepas anak nglewatin jalan yang juga dilalui bis-bis. Cuma aku pikir, kalau gak dicoba gimana kita tahu, toh… nantinya dia bisa belajar banyak untuk lebih hati-hati, melatih keberanian dan mengatasi konflik yang ditemui sepanjang jalan, sama melatih mengelola energi.

Ya sutralah… kita lihat aja nanti… harus berani nyoba sih…

———————————————————

Dulu aku bukan cangkir. Dulu aku adalah segumpal tanah liat. Kemudian tuanku mengambilku dan mulai meremas-remas serta membentuk aku. Rasanya sakit sekali. Aku memohon agar dia menghentikannya, tetapi dia hanya tersenyum sambil berkata, “Belum selesai !”

Kemudian aku ditempatkan pada semacam alat yg berbentuk putaran dan tuanku memutar-mutar diriku. Aku mulai merasa mual dan tidak tahan lagi, tetapi akhirnya putaran itu berhenti. Baru saja aku menarik nafas lega karena mengira segala sesuatunya sudah berakhir, tuanku menempatkan aku di atas panggangan. Aku tidak mengerti mengapa dia mau memanggang aku; aku berteriak-teriak memohon agar dia menghentikannya. Melalui kaca panggangan itu, samar-samar aku bisa melihat, tetapi dia hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Belum selesai !”

Akhirnya selang beberapa saat tuan itu datang dan mengeluarkan aku. “Aduh enaknya,” aku menarik nafas lega. Tiba-tiba saja, tuan mengangkatku lagi dan mulai menggosok-gosok tubuhku dengan amplas dan sikat. Lalu dia mengambil kuas dan debunya begitu tebal sehingga rasanya aku hampir pingsan. Kemudian dia mulai memberi corak dan warna pada sekujur tubuhku. Aku memohon agar dia berhenti, tetapi dia melanjutkannya sambil berkata, “Belum selesai !”

Sekali lagi aku ditempatkan di panggangan. Yang ini panasnya dua kali labih panas daripada yg pertama. Aku tahu aku akan tersedak. Aku memohon dan memohon, aku menangis dan menangis; tetapi tetap saja dia tersenyum dan berkata, “Belum selesai !”

Coffee_cup_3_2

Aku mulai merasa putus harapan. Aku tak sanggup lagi. Aku tak tahan lagi. Bagiku segala-galanya sudah berakhir. Aku memutuskan utk menyerah. Kemudian pintu terbuka dan tuanku berkata, “Sekarang sudah selesai!”

Tubuhku diangkat dan diletakkan diatas rak utk beristirahat. Setelah itu tuanku menghampiri aku dengan membawakan cermin dan menyuruhku melihat ke cermin. Aku hampir tidak bisa mempercayai penglihatanku sendiri. Kataku, “Wah, bagus betul cangkir itu.”

Kemudian tuanku menjelaskan : “Aku ingin engkau mengerti bahwa aku tahu ketika aku meremas dan membentukmu, engkau merasa sakit. Aku tahu bahwa alat pemutar itu membuatmua merasa mual. Tetapi jika kau tidak kusentuh, engkau akan mengering dan tetap saja berupa seonggok tanah liat. Tanpa kepribadian. Aku tahu bahwa berada di dalam panggangan itu rasanya panas sekali, tetapi jika itu tidak kulakukan, kau akan hancur berantakan.

Aku tahu kau tidak suka disikat dan dilukis, tetapi jika itu tidak kulakukan maka kau tidak memiliki warna. Ah, aku tahu panggangan yg kedua itu lebih panas! Tetapi jika kau tidak kumasukkan ke situ, maka kau tak akan bisa menentang tekanan hidup. Engkau tidak bisa bertahan lama.

Jadi, ketika kau mengira segalanya begitu sulit, aku masih memelihara engkau. Sejak semula aku sudah tahu kau akan menjadi seperti apa. Di benakku aku tahu seperti apa hasil yang akan kuperoleh sejak pertama kali aku menyentuhmu!”

-Pengarang tak dikenal-

Finding Neverland

Subuh tadi pagi, aku kebangun dari tidur yang memang jauh lebih awal dari biasanya. Aku nonton film lama di SCTV, Finding Neverland, keluaran th 2004. Pada waktu film ini ditayangkan pertama kali di bioskop, aku sebenarnya sudah nonton dan sangat terkesan dengan isi filmnya (memang layaklah kalau film ini mendapatkan beberapa nominasi Academy Award pada saat itu). Cuman waktu itu belum sempet aja curhat… Setelah nonton lagi dan tetap terkesan, aku sempet-sempetin untuk nulis… supaya gak kelupaan lagi…

Film ini terinspirasi dari kehidupan JM Barries, penulis naskah drama di Duke of York theatre. Pada saat itu, dia sedang mengalami kesulitan karena beberapa naskah dramanya tidak mendapatkan antusiasme penonton, bahkan mendapatkan kritik negatif, sampai-sampai pemilik gedung pertunjukkannya meragukan kemampuan si Peter_pan_flypenulis ini. Ketika dia sedang mencari inspirasi di taman, dia berkenalan dengan sebuah keluarga yang terdiri-dari satu ibu dan 4 orang anaknya. Perkenalan ini berlanjut kepada kedekatan emosi yang dalam dengan masing-masing anggota keluarga tersebut, yang ternyata telah kehilangan kepala keluarga mereka beberapa waktu sebelumnya. Terutama dengan Peter, yang paling terpukul di antara mereka, sampai akhirnya menginspirasinya untuk membuat cerita tentang seorang anak laki-laki yang tidak ingin tumbuh dewasa, Peter Pan, by just believing it will be happening, including flying.

Insight yang aku dapatkan dari film ini adalah… setiap orang akan mengalami suatu perjalanan panjang untuk menemukan esensi dari perjalanan hidupnya. Kejadian-kejadian yang menyentuh emosi, akan sangat banyak memberikan pelajaran tentang “arti kehidupan” itu sendiri. Hal ini aku sadari hanya beberapa tahun belakangan, terutama setelah mengalami banyak pengalaman hidup… baik yang manis maupun getir.

Dulu… sebagai murid SMA jurusan Fisika dan pengen ambil Teknik di ITB, membentukku sebagai “very logic and analytical person” dan cenderung menyepelekan ilmu-ilmu sosial. Bahkan ketika terjerumus dengan sukses di Psikologi, aku nulis laporan hasil pemeriksaan psikologis masih sangat berdasarkan logika. Sampai-sampai aku terpaksa harus ngulang salah satu jurusan, yaitu Psikologi Klinis (itu lo yang harus praktek di RS Jiwa, panti jompo, panti rehabilitasi WTS, panti rehabilitasi Narkoba, dsb), yang sangat membutuhkanTinkerbell kemampuan empati. Gak cukup itu aja, waktu masih muda dulu (emang skg dah tua, sih!) tiap kali ketemu sama anak kecil, mereka jadi nangis atau minimal gak mau digendong… hehehe. Untungnya dengan kemauan yang sangat keras, aku masih bisa lulus bersamaan dengan kebanyakan temen-temen seangkatan walaupun dengan IP pas-pasan. Dan anehnya lagi, skripsi yang aku bikin justru sangat “klinis” (ada psikologi sosialnya dikit), yaitu “Konversi Agama pada Wanita setelah Perkawinan. Studi kasus terhadap 6 wanita yang telah menjalani pernikahannya selama minimal 5 tahun, dengan metode penelitian in depth interview” (3x dateng @1.5 jam). Gile kan…???!!! Nah… setelah kerjapun aku lebih milih kerjaan-kerjaan yang membutuhkan analisis sistem/manajemen, walaupun tidak bisa dihindari 100% bahwa dengan embel2 Psikolog menuntutku untuk terus ngerjain evaluasi psikologis. Usahanya luar biasa bo’, untuk bisa bikin satu laporan yang bagus… hehehe

Belakangan… (nyadarnya telat banget ya bo’…) ternyata aku mulai merasakan manfaatnya masuk ke Psikologi, karena banyak hal-hal dasar yang aku alami sehari-hari bisa dijelaskan dengan ilmu itu. Ditambah dengan pengalaman hidupku, banyak hal yang bisa aku pakai untuk mendewasakan diriku dan lebih bisa punya “perasaan”. Film ini mengajarkan bahwa “penulis” (atau karakteristik seniman pada umumnya) biasanya memiliki sensitifitas yang lebih dari kebanyakan orang. Bahkan, pemahaman dia terhadap perasaan orang lain itu bisa menjadi salah satu inspirasi dari proses kreatifnya. Termasuk… dalam hal ini aku, yang kemudian menuliskan ini dalam blog-ku… Dulu, boro-boro kenal sama “diary”, walaupun hal ini adalah salah satu kebiasaan ABG. hehehehe

Pertanyannya adalah… di usiaku sekarang, apakah proses itu sudah terlambat???!!! Mudah-mudahan enggak… yang penting terus belajar dan belajar… baik dari teori maupun dari kehidupan… Finding neverland, never been too late though… Please pray for me… :-)

Bikin Essay Pas Mau Masuk MM UI

Logo_paskasarjana_ui

Ketika pertama kali saya mengungkapkan niat untuk masuk ke Magister Manajamen UI, apalagi konsentrasi yang ingin diambil adalah Finance, banyak teman-teman saya mempertanyakan, “Untuk apa sih, lulusan Psikologi mau ambil MM? Jurusan Finance pula? Iseng amat?! Kenapa enggak ambil Magister di Psikologi ataupun kalau di MM ambil jurusan SDM, kek!”. Dari komentar-komentar teman saya itu, saya coba sekali lagi mempertanyakan niat saya untuk ambil jurusan Finance di MM UI. Sempat terpikir oleh saya untuk mengikuti saran teman-teman, apalagi pada tahun ajaran 2005 ini beberapa teman dekat saya melanjutkan studi Magister di F. Psikologi UI, program 1 tahun yang dikhususkan untuk angkatan masuk ‘89 ke atas (termasuk saya). Hanya 1 tahun bisa mendapatkan gelar Master?! Cukup menggoda juga! Tapi apakah saya sekolah lagi hanya karena ‘gelar’?!

Kemudian saya teringat kembali pembicaraan dengan Boss saya di Perusahaan yang sekarang ketika hari pertama bergabung pada tgl. 1 Maret 2005. Pada waktu itu, beliau juga mempertanyakan niat saya untuk melanjutkan kuliah. Bahkan beliau kurang percaya bahwa saya memang berniat melanjutkan kuliah dengan kondisi saya yang sudah berkeluarga dan sambil tetap bekerja. Saya cukup memahami kekhawatiran beliau bahwa saya tidak dapat membagi waktu sehingga melalaikan kewajiban saya sebagai karyawan. Di dalam diskusi tersebut saya jelaskan bahwa niatan ini memang sudah muncul sejak saya masih kuliah, bahwa suatu saat saya akan melanjutkan kuliah tapi tidak di bidang Psikologi. Walau dengan berjalannya waktu, memang ada beberapa prioritas lain yang menyebabkan tertundanya pelaksanaan sampai sekian lama. Beberapa hal tersebut antara lain, menikah kemudian mengikuti suami pindah ke luar Jawa, melahirkan dan membesarkan anak. Selain itu, yang tidak dapat dipungkiri dan sangat menentukan adalah pertimbangan faktor finansial. Saya juga ungkapkan kepada beliau bahwa nilai pendidikan di keluarga besar saya mendorong saya untuk terus belajar dan belajar, tidak perlu malu dengan usia, bahkan kalau perlu “sampai ke liang lahat bahkan ke negeri Cina”, seperti sunnah Rasul Muhammad SAW.

Kemudian saya coba menganalisa berdasarkan motivasi saya sendiri, karena toh yang akan menjalani adalah saya. Dari hasil introspeksi, pada dasarnya saya bukan orang yang ingin mengkhususkan diri di bidang HR walaupun saya berlatar-belakang Psikologi. Saya selalu ingin menguasai ilmu atau pengetahuan di bidang lain. Salah satu hal sederhana yang dapat dilihat adalah dari hobi saya yang tidak melulu di satu bidang. Selain itu, sejak SMP saya sudah menyenangi ilmu yang berbau Ekonomi, seperti Pembukuan, dan sempat mengambil kursus DEAC Easy Accounting selulus kuliah. Ketika sudah bekerjapun ternyata penting sekali menguasi ilmu Finance terutama ketika harus berinteraksi dengan para pelaku utama bisnis di suatu perusahaan, seperti Finance, Produksi, Marketing dan Sales. Semua berbicara mengenai untung-rugi, efisiensi, dsb, padahal banyak hal yang masih kurang saya pahami. Selain itu, HR masih dianggap sebagai cost. Tidak bisa dipungkiri, walau bagaimanapun anggapan bahwa HR sebagai pengelola aset, masih sangat sulit dipahami oleh mereka. Hal ini makin memotivasi saya untuk menguasai Finance. Bila ingin dianggap sebagai inner circle, saya harus dapat berbicara dengan terminologi mereka dan harus bisa meyakinkan mereka bahwa HR bukan cost dengan cara tersebut. Apalagi posisi saya adalah salah satu team manajemen yang langsung di bawah General Manager / Country Manager, sehingga harus mengambil keputusan-keputusan penting untuk menentukan arah perusahaan selanjutnya.

Magister_manajemen_7

Dengan demikian, selain karena  minat, saya juga merasa perlu dan harus menguasai ilmu Finance. Dengan pertimbangan yang matang, saya memutuskan untuk menguasai ilmu tersebut dengan lebih mendalam. Di sisi lain, bila berbicara di mana tempat paling cocok untuk mendapatkan ilmu Finance, tak dapat disangkal bahwa Ekonomi UI adalah yang terbaik di negeri ini, bahkan diakui oleh dunia internasional. Didukung oleh team pengajar dari para praktisi ekonomi, di pemerintahan maupun swasta, akan menambah wawasan saya dalam penguasaan kasus-kasus di dunia bisnis sehingga khasanah pengetahuan saya menjadi lebih luas, penentuan kebijakan menjadi lebih strategis serta sesuai dengan kebutuhan perkembangan dunia bisnis.

Saya yakin bahwa dengan latar-belakang pendidikan dan pengalaman saya selama ini, dapat memberikan kontribusi terhadap MM UI. Paling tidak dengan saya dapat berkontribusi lebih optimal di dalam perusahaan, saya dapat mengangkat keharuman nama MM UI. Selain itu, saya juga dapat membuktikan pada orang-orang terdekat saya bahwa MM UI dapat membina lulusan Psikologi untuk lebih berpikir bisnis.

Dengan didukung oleh kemauan belajar dan motivasi saya yang kuat untuk berusaha keras dalam menjalani masa perkuliahan di MM UI, saya yakin bahwa saya dapat memenuhi tingginya kualifikasi di MM UI. Saya berharap, MM UI dapat mempertimbangkan dengan serius untuk menjadikan saya salah satu anggota civitas akademianya.